Selasa, 06 November 2012

Mencari Hati yang Hilang



Langit telah gelap, membawa masuk angin malam, mengundang kicauan jangkrik, di bawah remang rembulan yang masih tertutup awan kesunyian. Pikiran ini, terbawa terbang sampai jauh melayang pada pinggiran labuhan yang masih terlihat gelap.

Obor telah di tanganku, dengan kobaran dahsyat yang masih menyala. Mencari tempat dimana inginku merebahkan diri barang sejenak. Sampai akhirnya, ku temukan jawaban pada semak belukar yang menyimpan sedikit cahaya kunang-kunang. Terdapat kertas yang disimpan rapi di tengah-tengahnya. Aku mulai membukanya, perlahan. 

“Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka. Berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan, maka berkilaulah”

Sedikit diskusi malam ini, membuat inginku menuliskan sedikit cerita kepadamu.

Cerita ini, tak jauh dari pendakwah yang menjadi inspirasi kita dari zaman ke zaman. Yang namanya tetap di agungkan oleh penghuni langit dan bumi. Rasulullah SAW. 

“Selamat datang duhai orang yang karenanya aku di tegur oleh Rabbku!”

Sang Nabi selalu tersenyum ketika melafalkan kalimat ini. Dan orang terbuka itu juga tersipu. Kearah majelis Nabawi itu, ‘Abdullah ibn Ummi Maktum tertatih mendekat. Teguran Allah pada beliau itu terjadi sudah lama sekali. Tetapi Sang Nabi takkan pernah melupakannya. Beliau pernah bermasam muka, merasa enggan, dan mengalihkan wajah dari ‘Abdullah ibn Ummi Maktum. Tak sepenuhnya abai sebenarnya. Hanya saja waktu itu, Rasulullah sedang berada di hadapan para pembesar Quraisy, membacakan ayat-ayat Allah pada mereka. 

Saat itu, teramat tinggi hasrat sang Nabi agar para pemuka itu mau menerima da’wah. Karena mereka adalah pemimpin kaumnya, piker beliau, insyaAllah akan banyak manusia yang mengikuti langkah mereka. Maka kedatangan ‘Abdullah yang buta, yang lemah, yang pinggiran dan tanpa kuasa itu terasa sebuah usikan kecil bagi ambisi beliau. Kehadirannya seolah mencitrakan bahwa pengikut sang Nabi adalah orang-orang yang dhuafa, fakir, dan orang-orang yang terbelakang. Itu akan membuat para pemuka Quraisy tak nyaman dan makin enggan. Jadi beliau bermasam muka dan berpaling. 

Tak ada yang salah dengan hasrat kuat Sang Nabi agar para pembesar Quraisy itu segera beriman. Allah memang mengamanahi beliau menyeru mereka pada hidayah. Dan secara pribadi, Sang Nabi sama sekali tak punya rasa jijik, benci, ataupun risi pada ‘Abdullah. Beliau hanya merasa kemunculan ‘Abdullah terjadi pada saat yang tak tepat.

Gelombang keinsyafan dalam hati Sang Nabi lalu bergulung-gulung. Bahwa da’wah ini milik Allah. Dan bahwa hidayah itu juga milikNya. Bahwa tugasnya berikhtiar semata. Bahwa beliau takkan di persalahkan ataupun menanggung dosa jikapun para pemuka yang merasa kaya itu tak hendak menyucikan jiwa. Hal ini tertulis jelas pada surah Al-Anfal: 63.

“… Dan Allah yang mempersatukan hati para  hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaraan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka …”.

Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak berkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu bahwa yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Tak lama setelahnya pendar obor yang masih menyala itu, ku turunkan di permukaan. Agar menyala untuk seluruhnya, agar bercahaya untuk sesama. Tetaplah bercahaya!


Sumber inspirasi: Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah dan kepada Para Penyeru kebenaran da’wah, Immawan dan Immawati IMM Pelopor UIN Maliki Malang. 

Do’aku, semoga kelelahan dan keistiqomahan kita menjadi investasi amal kita di akhirat kelak. Karena barang siapa yang menolong agama Allah, maka di yaumil akhir nanti Allah akan menolong dirinya. Bismillah, Amiiin.


Selasa, 23 Oktober 2012

tigabulan

Berawal dari hari ini, mungkin semua akan menjadi tak sama. Sebuah ikatan akan terjalin, dan hal baru akan terjadi demi pencarian ketenangan hati. Mantapkan dan azzamkan bahwa kedua jalan itu akan terlewati bersama, bismillah. 
Wallahu yubarik fik, ukhti . . (Rizza Nasir)

Minggu, 21 Oktober 2012

Saatnya melingkari mimpi (part 2)


 
Happy Milad ^_-
LUTFINSA NURIYATUS IZZA
10 Oktober 2012

“Bintang itu ternyata kejora yang tiap pagi berada di ufuk sudut hati, yang tiap sore selalu melambai di senja waktu”

Kadang aku kesal dan ingin tak peduli dengan semua kesibukanmu itu, aku ingin waktu. Sebentar saja, untuk berbagi denganmu seperti dulu. Walau terkadang aku pun selalu tak punya banyak kesempatan untuk sekedar bertanya kabarmu? Walau hati yang sering terbelenggu dengan ragu.

Namun, kini aku bangga padamu. Iblis bernama “GALAU” itu sirna seketika di telan kejora yang tiap hari menyapa hidupmu. Kau tau? Kau benar-benar berusaha menghidupkan bintangmu kembali. Aku yakin ia tak akan redup lagi. Rembulan itu telah usai, dan berganti indah kejora. Selamanya. . 

MET MILAD yaa Ukhti, semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu Allah berikan dalam sisa usiamu yang akan kau pertanggungjawabkan kelak di hadapanNya. Tak ada yang sia-sia ketika seorang hamba berjalan atas dasar syiarNya, walau ia harus meneteskan peluh berapapun banyaknya, walau ia harus tertatih menahan sakit untuk istiqomah di jalanNya. Bukankah Dia akan membalas semua? Dengan indah iman dan ikhsan dalam cantiknya hati kita.
LISYA MANISA.

19 Oktober 2012
(Lisya, kau tahu. Kadang aku juga lelah dengan semua ini, kadang aku tak bisa membagi kapan aku harus bejalan dengan kegiatanku, keluarga, atau sekalipun denganmu. Aku ingin istirahat. Tapi, kau tak sendiri bukan. Aku sedang menjemput bintang itu kembali. Entah, sampai kapan aku harus menunggu.)

Beberapa waktu lalu, kau mengajakku untuk ikut lomba PKM (Penelitian Kompetitif Mahasiswa). Semrawut, aku mencoba mengerjakan dan menyusun setiap kata dalam lembar. Dengan hati-hati. Sampai akhirnya, waktu untuk menunggu pengumuman telah usai. Datang sebuah SMS darimu. “Waktunya melingkari mimpi. Selamat ya, Sa. Kita berhasil untuk lomba PKM, dan harapan kita untuk ke MI Miftahul Huda sebentar lagi akan terwujud”.

Subhanallah, aku yang tadinya ngantuk-ngantuk mendengarkan penjelasan salah satu dosen. Tercengang, sontak aku memeluk seorang teman yang berada di sebelahku. Bahagia bercampur haru. Tak lama, ku turuni tangga gedung MT. Terlihat Lisya sedang memegang HP dan mulai melihatku yang girang menuruni tangga. Ya. Nama kita benar tertulis disana. Allah, terimakasih. Jawaban itu, telah Kau tunjukkan pada saat yang tepat. 

Ku pandangi wajah Lisya yang masih tak percaya melihat tulisan di belakang dinding kaca madding. Lisya, maafkan aku. Kadang aku tak peduli untuk sekedar bertanya kabarmu. Tapi kini, terimakasih. Kau telah mengajak untuk melingkari satu mimpi yang telah terencana.
Perjuangan kita belum selesai!

Saatnya melingkari mimpi (part 1)


(Ku kira tulisan ini sudah tak layak untuk di teruskan, tapi hanya ingin mengingat perjuangan kita ukhti)

Malang, 30 Juli 2012
Selalu ada pelajaran pada setiap kejadian, termasuk hari ini. Semua berawal dari pejalananku dengan seorang teman. Sebut saja Lisya Manisa. 

Hari yang cukup cerah ketika matahari belum berada pada tengah bumi bagian barat Indonesia. Saat itu, kami berada pada antrian panjang loket bank depan kampus. “Tumben ramai, padahal tanggal segini sudah melewati batas pembayaran SPP.” Pikirku sejenak. Tak banyak bicara, kami duduk diam dan menunggu giliran. Aku mulai menulis lembaran yang diberikan satpam yang sedari tadi mondar mandir memberikan intruksi. Hanya mengangguk dan mulai mengisi. Mulai dari nama lengkap, nama ibu kandung, alamat rumah, contact person, dan berbagai pertanyaan lainnya. Setelah lengkap ku isi, langsung saja aku serahkan lembaran tadi pada pak satpam yang dari tadi agak ragu melihatku mengisi lembaran. 

“Mbak, bagian penghasilan ini diisi ya! Ini, ini, dan ini” Kata pak satpam santai padaku. Memerintahkanku untuk mengisi hasil penghasilan tiap bulan. Seingatku, ada 3 pilihan. Kurang dari 5 juta, kurang dari 10 juta, dan lebih dari 10 juta. (mungkin)

Sontak aku kaget. “Saya masih kuliah, pak. Kalau penghasilannya segitu mah, nggak mungkin.” Dahiku berkerut.

“Isi saja yang kurang dari 5 juta, mbak. Mbak dapat beasiswa DIPA kan?” Deg, aku tercengang. DIPA? Beasiswa yang kuharapkan itu? Jadi . . ? 

“Oh, bukan Pak. Saya hanya *****.” Ucapku gemetar. Aku baru sadar, ternyata anggapan yang semula tentang antrian panjang pembayaran SPP ternyata mengambilan beasiswa DIPA. Oh, begitu. Tuhaan . . Ku lirik Lisya yang sedari tadi juga meringis disampingku. Ku teruskan perintah dari satpam tanpa banyak bicara. Tangan Lisya berada pada bahu kiriku sekarang, mencoba menenangkan. 

Setelah semuanya selesai, kami keluar dan –lagi- tak banyak bicara. Ku naiki motor dan mulai melaju.

“Lisya. . Ingat nggak harapan kita dulu?” Tak ingin larut, aku mencoba membuka bicara. Mengingatkan tentang harapan ketika kita sama-sama dapat beasiswa DIPA (Salah satu beasiswa di kampus kami) nantinya. Dan taukah kawan, kita sama-sama tak mendapatkannya. Mungkin kalian bingung tentang hal sepele tentang harapan kami, mengharapkan beasiswa DIPA dan kami sedih tak mendapatkannya. Banyak cerita yang ingin kami tuliskan untuk harapan itu. Panti, adek-adek, pelatihan, menjahit, kain, flannel, clay, dan sejuta barang lainnya yang ingin kami beli untuk bisnis pertama kita. Investasi awal untuk SAMARA. 

Hahh, pelan ku lepas rasa iriku. Astaghfirullah. .

“Kamu tau, Sa. Ada teman yang kemarin cerita padaku bahwa dia menggadaikan laptopnya pada salah satu ustadz untuk biaya SPP semester ini. Dia belum bilang pada orang tuanya karena dia takut terlalu membebani. Sedangkan kita, aku, kamu selalu minta orang tua dan sedikit peduli tentang mereka.”

“Bukan tak peduli, Lisya. Tapi . .” Aku mencoba membela diri.

“Iya aku tau. Tapi ayolah sejenak kita bersabar dan satu hal untuk kejadian pagi ini. Allah belum beri kita uang, Sa”

Allah. . Tubuhku gemetar, telingaku panas, tamparan gaib yang pas menohok pada jantungku. Aku lunglai, malu atas segala penjelasan Lisya. Dalam keadaan itu dia terus bercerita, meyakinkan, dan memberi pertahanan agar ku kembali bangkit. Ya muqollibal quluub . .

Wilis, 1 Agustus 2012

Perjalanan terus berlanjut, siang ini kami akan pergi ke Wilis untuk menjual buku bekas. Pagi-pagi, kami telah mempersiapkan buku bekas untuk kami jual. Teknik pilih memilih dan dengan harapan mulia terus kami tanam dalam hati. Optimis. Salah satu guru yang paling dasar ketika kau ingin mewujudkan mimpi. Walau kau tersandung, tertatih, sampai kakimu teramputasi, itu tak akan mengamputasi mimpimu ketika kau punya optimis. Meski sampai detik ini, aku masih belajar. 

Sebelumnya, jujur. Aku tak pernah menjajakkan buku di wilis, bagaimana ketentuan dan caranya. Aku sama sekali tak paham. Semangat untuk SAMARA, masih terasa disini. 

Hmm, kami mulai menjajakkan buku pada toko pertama. “Kalau barang-barang begini mah, dapatnya murah mbak. Ini belum ada 3 kg.” Kata bapak pertama setelah mencoba menimbang buku yang ku bawa. “Mungkin cuma 15.000”.

Aku tercengang, buku masih bagus begini kok? “Masa’ sih, pak? Nggak boleh lebihan dikit?” Tawarku.

“Kalau nggak mau ya sudah, mbak.” Ucapnya cuek.

Aku permisi untuk pergi ke toko lain. Dan kau tau kawan, semua penjual mengatakan hal yang sama seperti bapak pertama. Aku mulai lunglai, Lisya (lagi2) menepuk pundakku. Meyakinkan. Tak cukup disini perjuanganku, aku mulai menjajakannya ke toko barang rosokan yang berada tak jauh dari Wilis. 

Semangatku habis selama dalam perjalanan kesana, entahlah mungkin jalanan telah menyedot habis ghirohku. Sampai aku lupa, untuk apa lagi tujuanku untuk menjual buku-buku ini. Hingga akhirnya Lisya mengatakan hal ini padaku. Dengarkan. “Bukan nilai nominal yang berharga untuk sebuah perjuangan, Sa. Tapi keberanian, pengorbanan, dan semangatmu-lah yang membuat semuanya menjadi bernilai.” 

Hanya ingin melukiskan sedikit cerita hari ini: Ku serahkan, biar Tuhan sendiri yang menentukan jalan baikNya.

Makasih, Lisya.

Kamis, 11 Oktober 2012

Perahu Kertas 2

Terkadang, aku ingin mengajakmu untuk sejenak refreshing ke 21.


Soundtrack Perahu Kertas :
Perahu kertas mengingatkanku
betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati,
kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta… cita-cita …cinta-cinta…
yang lama ku pendam sendiri
berdua ku bisa percaya
(Mendayung, Berlayar, Mengarungi, bersamamu, langit!)

Minggu, 30 September 2012

Merindukan LANGIT malam ini


Sempat merindukan senyum yang terkembang beberapa jam yang lalu, sempat merindukan bacaan takbir yang dia pekikkan dengan semangatnya, sempat merindukan ayat-ayat suciNya yang dia lantunkan dengan syahdu. 

Selamat tinggal, Langit! Masih tertinggal kenangan pada wajah-wajah penghuni surga. Kawan, masih teringat bukan bahwa sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya (H.R. Bukhari). Dan kini, kita sama-sama mengejar target itu. Menjadi ustad-ustadzah yang melahirkan generasi Qur’ani dari lembaga kita masing-masing. Kawan, bersamamu semangat ini kembali menguap, cita ini kembali tersusun jelas. Apa kabar kau disana? Masih belajar dari materi hari ini? Atau mungkin, kau sudah punya target untuk membuat lembaga baru di daerahmu? Semoga suatu saat nanti, aku bisa berkunjung.

LANGIT, aku hanya ingin titip pesan. Untuk dirinya yang ada disana, salamkan pesan rindu kepadanya. Tetapkan keistiqomahan untuk tetap berada di jalanMu, tambahkan ilmu untuk berjuang demi agamaMu, jaga dan lindungi dia. 

Langit, hanya ini yang bisa aku sampaikan untuk kabar rinduku untukmu, semoga kau merasakannya, semoga kau mengetahuinya. Langit, sampai disini kisah ini. Jika Tuhan memberikan rahmat, aku yakin kita akan bertemu. Semoga Tuhan memberimu keberkahan. 

Ku titipkan kisah, kenangan, dan rindu ini pada Tuhanku. Karena diatas Langit, masih ada LANGIT. 

Tuhan, aku tetap menunggu janjiMu. 

(Sertifikasi Guru UMMI. Malang, 30 September 2012)

Rabu, 12 September 2012

Buat MIMPIMU kembali


Pagi ini, saya hanya ingin berbagi pada kalian tentang IMPIAN. Beberapa kisah masa lalu tentang bagaimana saya berfantasi dalam merajut beberapa keinginan yang kadang sering orang menyebutnya itu adalah hal yang aneh. Oke, saya memang suka dengan penerbangan. Menerbangkan balon seribuan yang saya beli di depan asrama putra. Warna balon yang selalu terbeli tak jauh dari pink-biru-ungu. Warna indah dari ketujuh warna yang saya sukai. Semua cerita lengkapnya ada di buku perdana kami nanti, semoga kau bisa membelinya kawan.

Saya hanya ingin mengingat tentang masa lalu agar semangat ini kembali. Salah satunya tentang menulis. Ya, beberapa hari ini semangat itu hilang dan entah sedang pergi kemana. Suatu ketika, seorang teman mengirimiku beberapa tulisan yang harus di edit. Entah apa pikiran saya saat itu, sampai mengabaikannya. Dan itu ku lakukan sampai sekarang. Kami membuat proyek sederhana yaitu menulis tentang ma’had tercinta, suatu produk 8 windu yang oktober nanti rencananya akan kami bukukan (walaupun percetakan pribadi). Bismillah, InsyaAllah.

Saya juga tidak tahu mengapa saya yang di tugasi untuk mengedit semua tulisan mereka. Padahal, jika diselidiki saya hanya bisa menulis apa-apa tentang saya. Sesuatu di sekitar saya dan itu selalu saya manfaatkan untuk menjadi objek tulisan. Cinta dua-dua misalnya.

Oh iya, berbicara tentang impian. Sebetulnya impian dan tulisan memiliki keterkaitan satu sama lain. Begini singkatnya, saya pernah membaca sebuah artikel yang kurang lebih intinya tulisan itu seperti tali, sebagai pengikat.

Suatu ketika, saya pernah mencoba mempraktekannya. Waktu itu mungkin saya masih berada di ma’had Lamongan. Dalam sebuah kertas saya tuliskan, saya ingin sekolah di Malang, Universitas Islam, yang di dalamnya saya bisa membaca Qur’an setiap hari, berada di Masjid untuk jama’ah setiap saat, menjadi seorang aktifis. Dan ajaib, semua tulisan itu nyata hingga sekarang. Tak perlu banyak bicara, kau hanya cukup mencobanya.

Pernah baca buku the secret? Disana penulis banyak memaparkan bahwa suatu yang kita pikirkan terus menerus akan memunculkan suatu hal yang nyata. Izinkan saya mengutip beberapa potong kata yang di sampaikan di sana. “Segala sesuatu yang datang ke dalam hidup Anda di tarik oleh Anda ke dalam hidup Anda. Dan segala sesuatu itu tertarik ke Anda oleh citra-citra yang Anda pelihara dalam benak. Oleh apa yang Anda pikirkan. Apapun yang berlangsung dalam benak, Anda menariknya ke diri Anda. Karena setiap pikitanmu adalah hal yang nyata-suatu daya- (Prentice Mulford”.

Nah, dengan tulisan kau bisa membuat semua citamu menjadi sesuatu yang nyata. Tak hanya sebatas tulisan dalam buku diary yang selalu kau tengok saban hari, kau bisa menuliskannya dengan membuat main map, tulisan kecil yang berbentuk bintang, menulis kertas dan di tempel pada langit-langit kamarmu, atau sebuah burung kertas yang di dalamnya terdapat pesan rahasia. Atau mungkin, kau bisa meniruku membuat sebuah penerbangan. Dengan menulis sebuah pesan pada kertas dan kau tempelkan ke ujung balon. Atau kau yang berjiwa religius bisa membuat suatu daftar amal yaumiyah, atau mingguan, atau bulanan untuk mengontrol ibadahmu. Dan kau cukup membuat beberapa kegiatan yang kau inginkan setiap waktu yang kau tentukan. Pergi ke toko foto copy, laminating, dan centang kegiatan yang telah kamu lakukan setiap kali kau telah melakukannya.  Itu hal yang menyenangkan bukan? Dan jangan lupa, kau harus berusaha untuk membuat semuanya menjadi kenyataan.

Kita tak pernah tau skenario Tuhan, karena di balik skenario-skenario yang kita tuliskan. Bisa jadi tulisan itu akan menjadi hal yang nyata, pada tanggal dan tempat yang kamu ikat. So, menulislah dan jangan pedulikan hal yang selalu melemahkan semangat. Oke, bangkit dan MENULISLAH. 

Spesial untuk Anda, ada beberapa media pengikat impian sebagai publikasi pribadi Anda. Semoga bermanfaat. 




Selasa, 07 Agustus 2012

Bajul Mati (8 Juli 2012)


Teringat beberapa serpih semangat mereka, perjuangan di bawah perintah. Mencoba satukan tujuan, walau ternyata itu bukan hal yang mudah. Perjalanan tak hanya sebatas bagaimana kita melangkah, tapi juga bagaimana kita memiliki ruang di dalamnya.

Mungkin tak banyak hal yang menjadi kenangan. Tapi hanya ingin menuliskan, bahwa kalian pernah ada untuk membantu agar mimpi bisa di perjuangkan. Aku mengerti, waktu yang membuat kalian sibuk dengan dunia yang kini menjadi sandaran. Aku juga mengerti, terkadang pilihan yang membuat kalian berlari pergi mengubur paksa tujuan yang pernah kita ikrarkan bersama. Aku pun mengerti, karena aku pun juga sering seperti itu.

Sering, dan teramat sering hati ini meronta melihat kalian yang telah memiliki kotak rahasia sehingga melupakan bahwa di luar masih banyak bunga untuk di petik. Dia telah memberikannya, hanya saja kita terkadang mengabaikan begitu saja.

Tapi sudahlah, semoga kalian temukan bunga yang lebih indah di luar sana. Dan aku harap itu dari Dia, bukan yang lain. Untuk cahaya pertama yang tak banyak senyumnya, aku harap kau mengerti.



Terus saja berjalan, walau caci, walau maki, walau semangat ini naik turun kita kobarkan. Tangan ini tetap bergandengan. Senyum ini tetap mengembang. Hati ini tetap terpaut untuk tujuan awal kita. Dan goresan tangan ini, adalah bukti bahwa kalian pernah ada untukku.

*Ayo tadarusan bareng. Rencana I'tikaf dimana nih ? (sambil mengusap beberapa butiran yang jatuh di pipi)

Kepada kalian Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM)


Sabtu, 28 Juli 2012

Cinta, biarkan aku menyambut Cinta-Nya

Cinta,
telah lama kita dipisahkan, melalui jarak, melalui waktu…
tak kutemui lagi senyum manismu, tak kujumpai lagi gelak
candamu…
Aku yang pendiam, dan sosokmu yang periang…

Cinta,
kata terakhirmu yang terlontar adalah “Jaga dirimu baik-baik”
Aku menjaga diriku, walau di hatiku masih terbesit keinginan untuk
mengetahui kabarmu…
Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, cinta?

Cinta,
Saat itu aku bingung…
Mengapa kamu yang aku pilih…
Aku tertawa sekarang, mungkin sebuah kesalahan di masa lalu
ketika kubiarkan jiwamu datang mengetuk pintu hatiku…

Cinta…
Jiwamu benar-benar menyapa hatiku,
Sungguh cuma sampai di situ…
Lalu Dia menyadarkanku, cinta, tentang dirimu dan juga kesalahanku…
Cinta, sungguh tak pernah aku sesali,
Kau sungguh baik, kau tidak pernah menuntut suatu hubungan…
Kau hanya memberi cinta…
Tanpa pernah menuntut cinta dariku…
Mungkin itu yang membuatku luluh…
Baiklah cinta…
Saat itu mungkin kau tak tau aku juga kagum padamu…

Terima kasih, Cinta,
Atas pengorbananmu… Atas sikap baikmu dan juga cinta yang kau
hadirkan untukku…

Tapi, Cinta…
Sekarang sudah kutemukan cinta yang jauh lebih besar darimu…
Bahkan hatiku pun tak mampu menerima muatan cinta itu…
Aku terbuai dengan cinta-Nya, cinta…
Alunan kasih sayang-Nya telah menyemai molekul cinta yang
dalam di hatiku…
Sungguh harus kutinggalkan engkau, cinta…
Karena hatiku hanya dapat mencintai satu cinta…
Cinta-Nya tak pernah berhenti padaku, sekalipun saat aku
meninggalkan-Nya…

Selamat tinggal, cinta…

Aku memilih-Nya…
Ya, aku memilih cinta-Nya…
Sampai kapan pun, tak akan tergantikan, sekalipun olehmu…
cinta…

Ku titipkan cinta pada Sang Maha Cinta. 

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21399/cinta-biarkan-aku-menyambut-cinta-nya/#ixzz21vcKUsAc