Minggu, 07 Juli 2013

Sebuah Perjalanan


Tertanggal 27 April 2013
Seusai DAM (Darul Arqom Madya) BSKM Yogyakarta



Ada bulan.
Iya, seakan terus mengintai mengikuti.
Pohon-pohon juga tanpa sadar berlalu pergi.
Karna sejatinya, akulah yang terbawa laju meninggalkan.

Dulu,
Selalu ada yang special dengan perjalanan.

Tapi sekarang,
Seakan ada yang hilang ketika ku tersadar, dia telahberanjak.
Kata gita gutawa,
Jauh melewati batas waktu.

Ada yang membuat rindu.
Adalah ketika dia tetap mengizinkanku untuk bertindak apaadanya.
Seperti anak kecil.

Ku mulai kehilangan.
Dan harus tertangis dalam sebuah perjalanan malam.

Hening.
Ada yang hilang.
Kebebasan untuk tetap berfantasi.
Keahlian kita yang berimajinasi.

Tapi kurasa, itu tak perlu sekarang.
Aku sudah bisa melakukan itu sendiri.
Walau sekarang, masih harus berpura-pura untuk itu.

Meski yang mengherankan adalah,
Kenapa aku selalu menulis saat mengingatmu?

Gelap, 03:59
Perjalanan Kereta Yogyakarta-Malang

Sabtu, 06 Juli 2013

Hanya ingin Bersama-Sama




Hari ini, tepat pada shalat maghrib tadi, aku berdo’a agarAllah selalu meneguhkan niat-niat ini, agar tidak sesat, agar tidak berpindah.

Tak lama setelahnya, Allah memberi ujian

Suatu ujian yang baik, insyaAllah

Saat itu, sms tentang kabar kepada mereka mulai melayang,ada kejanggalan

Mungkin ada yang nggak sehat saja dengan hatiku

Ada sedikit prasangka, atau tanya

Akankah mereka menerimaku? Menerima apa yang aku katakan?

Sungguh, tak ada niat sedikitpun untuk menggurui

Hanya saja, aku ingin kita bersama-sama

Aku menyayangimu, sebagai adik, sebagai saudara seiman

Tak ada niat untuk berada diatasmu, mengatur danmenggiringmu

Sekali lagi, aku ingin kita bersama-sama

Aku ingin mengajakmu menikmati indahnya dalam dekapancintaNya, meski aku sendiri belum tau bagaimana rasa yang sebenarnya

Sekali lagi, aku ingin kita bersama-sama

Mungkin hatiku saja yang sedang sakit, mungkin saja aku yangberprasangka

Tak perlu aku ucapkan maaf padamu, saudaraku

Kita tahu, kita sudah sama-sama besar

Biar Allah yang mengatur hati-hati kalian, aku tak punya andilsedikitpun, selain doa untuk kalian

Di perjalanan malam ini, ada sesal atau entahlah itu

Aku mulai memarahi diriku sendiri

Lalu dengan semua ini aku akan pergi? Lalu dengan semua ini,aku akan berhenti?

Apa ini ujian yang harus dilewati untuk menghadapi ujianselanjutnya? Atau ini teguran karena diri ini telah lalai?

Ya muqollibal quluub. . Hanya kepadaMu aku Menyembah danhanya kepadaMu aku meminta Pertolongan.

Sungguh, dalam segala prasangka manusia, Engkaulah yang MahaMengerti segala yang bersifat ghaib

Termasuk apa yang telah di azzamkan dalam hati

Malang, seusai pulang dari komisariat
1 Mei 2013

#kembalibersinergi #memberiuntuknegeri

     Siang ini dikejutkan oleh status salah satu Immawati, tepatnya seperti ini.

     Teman2, kader Muhammadiyah.. Ada yg menghadiri Pengajian Umum bersama Tokoh Reformasi Bpk.Amin Rais di daerah Kepanjen?

     Aku yang posisinya sedang berKKM ria di daerah setempat, segera bergegas untuk pergi kesana. Tepatnya di belakang masjid Fastabiqul Khoirot. Entah apa yang terfikir pada saat itu. Mungkin nekat jika bisa dibilang, sudah siang dan mungkin tausyiahnya sudah hampir selesai.

     Dan Subhanallah, ketika menengok di sebelah kanan kerumuman ibu-ibu Aisyiah, ada salah satu mahasiswi UB yang aku kenal satu organisasi IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang memang beberapa waktu lalu sedang aku cari untuk merealisasikan satu misi setelah DAM (Darul Arqom Madya), pengkaderan IMM kedua setelah DAD (Darul Arqom Dasar) yaitu untuk melegalkan GJDJ (Gerakan Jama'ah Dakwah Jama'ah) di daerah Malang.

Banyak yang dibahas saat itu dengan beliau (si Immi.), karena memang posisinya aku telah kehilangan waktu banyak untuk mendengar tausyiah dari pak Amien Rais. Jadi, semua pembahasan malah berpindah dari mulai KM3 (Korps Mubaliqh Muhammadiyah Malang), Tutor Ramadhan dan sedikit silaturahim sama immawan dan immawati IMM Universitas Brawijaya. 

Sedikit pengajian hari ini adalah untuk lelang tanah yang bertujuan untuk membangun Perguruan Tinggi Muhammadiyah di daerah setempat.

Ini nih, tak lupa aku mendokumentasikan sedikit perjalanan :)

















Ini di depan Masjid Fastabiqul Khoirot. .


 Ini para Immawan dan Immawati Universitas Brawijaya Malang :)
Waahh, aku tampak jelek sekaliii  


 Ini Immawan UB dan yang tengah siapa lagi kalau bukan anak IPM. :)


Dan ini siapa lagi kalau bukan mbak-mbak Nasyiatul Aisyiyah dari Universitas Muhammadiyah Malang. :)

Serasa rame deh kalau bebarengan begini. :D

Senin, 31 Desember 2012

Gerimis


Gerimis itu bagaimana bentuknya? Luka itu bagaimana rasanya? 

Hanya bisa diam dan menyelami setiap kata dalam lembar. Dalam sebuah video bergambar yang menayangkan masa lalu. Sampai pada saat dimana gerimis berpindah ke pelupuk mataku. Hingga aku mengerti, bahwa gerimis itu berair dan rasanya menyiksa. Bukan kenangan, tapi sesal.

Rabu, 26 Desember 2012

Mencintaimu dengan nada berbeda


Terpaut lama wajahku di depan kotak kaca tak bersuara. Hanya suara nasyid dan lagu milik Sammy berjudul “dia” yang sampai saat ini terdengar. Entah apa yang ingin tertulis. Hanya saja, aku ingin segera memenuhi satu tulisan ke blog baruku. Hahaha, alasan klasik

Sebetulnya, banyak yang ingin ku tulis. Saking banyak, sampai meluap, sampai lupa setiap kata yang mau ku tulisan. Hhh, hujan. Selalu ada kisah di setiap rintiknya. Lebih tepatnya, ia pembawa bahagia.
Sudah lama tak menyaksikan hujan senikmat ini. Berada di sebuah kedai kopi belakang Taman Makam Pahlawan (TMP) Malang yang posisisnya tak jauh dari Mall MATOS. Dengan hanya di temani satu gelas kopi susu hangat dan satu novel berjudul “Diorama” dalam genggaman. Seketika bau hujan pun terasa, mencoba menikmati. Meneruskan bacaan yang mulai membuatku melayang jauh. Ke suatu Negeri yang bernama imajinasi. Diorama sepasang Al-Banna, kisah seorang ikhwan dan akhwat yang kepribadiannya sangat bertolak belakang, namun mereka saling mengisi. Tentunya dengan cinta yang mereka miliki. Fantastik.

Tak terasa lama juga aku berada disini, banyak pasang mata yang melirikku sinis. Atau menggoda? Hm.. insting wanitaku menyala. Panik.

Ah… seandainya kau disini” Bisikku dalam hati, untuk.. .. ? Untuk siapa aku tak tau.

Kalau saja tak mengingat tubuhku masih lemah, mungkin aku sudah tancap gas pulang ke rumah dan tidur pulas di bawah selimut. Tapi aku mulai sadar, tak ingin lagi hujan membuatku begini. Bukan, bukan salah hujan. Dia terlalu lembut untuk disalahkan. Lebih tepatnya, aku sendiri yang banyak tingkah. Memilih hujan-hujanan sepulang mengantar saudara pulang ke ‘singgasananya’. 

“Yan, kau ingin tahu jawabanku? Demi Dakwah, nikahi dia!” Deg. Sebuah kata yang seakan menohokku dari belakang. Sebuah kata, dimana aku mendapatkannya dibuku yang sekarang dalam genggaman. Diorama. 

“Demi dakwah? Menikah? Yang benar saja. Semudah itu. Bukan, ini hanya fiksi.” Kututup “Diorama” yang mulai ‘menyebalkan’ untuk caraku sendiri. 

Pikiranku mulai berkelebat tak karuan. Teringat kembali wajah seorang lelaki menari-nari dalam memori. Lelaki berkacamata dengan tangkai berwarna putih. Mengalun lembut meminta jawaban. Entahlah, jawaban apa? Aku saja tak tahu apa yang ingin aku jawab dari pertanyaan konyol yang selalu dia ajukan beberapa waktu lalu. Sampai sekarang, aku tak melupakannya. Lebih tepatnya, aku tak ingin melupakan. 

Bagaimana bisa dia ‘memintaku’, sedangkan saat ini kita masih sama-sama duduk di tingkat 3? Artinya, masih panjang waktuku untuk meneruskan perkuliahan. Apalagi, zaman sudah menuntut untuk meneruskan ke strata yang lebih tinggi. Ahh, kepalaku mulai pening. 

Sebetulnya, tak ingin lebih lama menggantungkan perasaan seperti ini. Toh, jika dibilang cinta, aku biasa saja. Cakep? Tidak juga. Tidak seperti Mr. Akechi maksudnya (aduh kebawa novel lagi), berarti ia lelaki yang cukup ganteng untuk ukuran wanita yang waras. Hanya saja, cara dia beristiqomah atas apa yang dia yakini, itu yang membuatku salut. Tapi mau gimana lagi, memangnya nikah cuma untuk menghasilkan anak? Enak saja, mau di kasih apa dia nanti kalau ibu bapaknya masih belajar. Bukan materi sebetulnya, tapi jauh lebih dari itu. Pendidikan. 

Aku mulai berfikir, bagaimana seharusnya. Aku belum berani berbicara pada siapapun, termasuk orang tuaku. Tapi tidak dengan Akmal, sebagian besar keluarganya sudah tau. Ajaib. Begitulah enaknya kalau mempunyai latar belakang keluarga dengan agama yang bagus, menurut mereka menyegerakan menikah adalah hal yang cukup ahsan. Atau lebih tepatnya di anjurkan untuk orang seukuran Akmal. Ya, meski dia satu tingkat denganku, tapi umurnya terpaut 3 tahun di atasku. Ada alasan tersendiri mengapa Akmal begitu. Mungkin semacam pengabdian. Atau apalah itu. Tapi aku? Hanya menyimpan semuanya sendirian. Ya Allah, aku menggantungkan semua rasa ini padaMu. . 

Hingga hujan berganti rintik dan diselingi oleh kicauan burung pipit yang mulai datang perlahan. Tiba-tiba, handphone berbunyi. 

“Ada waktu?” Tanya seseorang di seberang yang sebelumnya dengan salam. 

“Untuk apa?” Jawabku sekenanya.

“Untuk kelanjutan urusan kita.”

Deg. Inilah saatnya aku bicara. “Oke.”

“Waktu dan tempat, aku kabari selanjutnya. Wassalamu’alaikum.” Tuutts tuutts. .

Dan semuanya kembali hening.

Sabtu, 01 Desember 2012

Untukmu Kader Dakwah


Dakwah ini bukanlah mencari harta, Karena kita bukan pekerja duniawi, Dakwah ini bukan hal yang mudah, Pasti ada riak penolakan, Nyanyian kebencian pun terdengar, Sindiran kan datang silih berganti.

Dan, kamu adalah pembelajar sejati, Yang menghimpun kesabaran, Yang bersenjatakan keberanian, Menyampaikan yang Haq

Insya Allah,Kemuliaan ini akan tumbuh, Bersamaan, Dengan deru-deru perjuangan. .

(Amanah tetap berjalan, mengiringi langkah-langkah para pejuang CINTA. Kata Salim A. Fillah, perlu tanda "pause" untuk merefresh segala aktifitas pekan ini. Seperti pisau yang tak lupa untuk di asah sebelum dia terus di gunakan. Selamat istirahat para pejuang CINTA. Selamat menikmati malam bersama keluarga, atau kau yang tetap bersemangat memikirkan perjuangan ini.)

Untuk kedua cintaku yang tak penah habis semangatnya :)

Sabtu, 24 November 2012

Menemukanmu . .


Dulu, pernah membuat satu keinginan untuk pergi ke tempat tertinggi yang menampakkan wajah Malang secara keseluruhan. 

Kemarin seusai perkuliahan di MT, kita pergi ke bukit itu. Yang jalannya belum pernah ku lalui, tapi sempat memunculkan kenangan lama yang telah benar-benar mati.

Hanya bisa diam dan menerima hembusan angin yang mengibarkan ujung kerudung yang tergerai cukup panjang. Hanya bisa diam dan menerima kemana perginya sepeda melaju kencang menuruti kehendak tuannya. Dan sekali lagi, hanya bisa diam dan menerima bahwa tak selamanya mimpi akan berjalan dengan sempurna. 

Yap, akhirnya ku menemukanmu meski dengan cara yang berbeda.
“B U K I T – T I D A R”